HENDY-EFPRIZAN, Pontianak
Hairiah Berbekal Aktivis, Maria Ingin Tuntaskan PR Pada pemilu kali ini, mungkin, baru Kalimantan Barat (Kalbar) yang semua anggota DPD (dewan perwakilan daerah) terpilihnya perempuan. Siapa saja mereka? Bagaimana akhirnya mereka bisa terpilih?
WAJAH Hairiah tampak cerah. Senyum selalu menghiasi wajahnya. ”Ayo…mau tanya apa?” katanya ramah kepada Pontianak Post (Jawa Pos Group).
Hairiah memang patut gembira. Sebab, pada pemilu 9 April lalu, dia berhasil terpilih menjadi anggota DPD setelah meraup 124.854 suara.
Di Kalbar, perempuan yang lahir pada 27 Maret 1966 itu dikenal sebagai pejuang kaum hawa. Hampir setiap ada kasus yang melibatkan perempuan, Hairiah selalu terlibat memberikan advokasi.
Pendek kata, rekam jejaknya dalam membela perempuan tidak diragukan lagi. Pada 17 Januari 1997, ibu dua anak itu mendirikan Lembaga Bantuan Hukum Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH PIK) Pontianak bersama para aktivis perempuan lainnya.
”Sejak 1995 sampai 1996, saya sudah melihat banyak permasalahan yang dialami TKW. Beranjak dari itu, saya dan teman mendirikan sebuah lembaga yang konsen terhadap perjuangan perempuan,” ungkapnya.
Bukan hanya itu, Hairiah juga aktif mendirikan beberapa organisasi yang sangat konsen memperjuangkan gender. Mungkin karena kiprahnya itu, wajar jika Hairiah berhasil mencuri perhatian masyarakat sehingga dia berhasil meraih suara signifikan dalam pemilu.
Bahkan, dia sebenarnya sudah terpilih sebagai calon anggota Komnas HAM perwakilan Kalbar pada September 2007. ”Saya akhirnya mundur karena terpilih menjadi anggota DPD,” ujarnya.
Ibarat menanam, apa yang berhasil diraih Hairiah saat ini tinggal memanen. Dia menceritakan, sudah sejak belasan tahun lalu dirinya getol berkiprah di tengah-tengah masyarakat, terutama dalam melakukan pendampingan atau advokasi kepada kaum perempuan yang sedang menghadapi persoalan.
”Kiprah saya itulah yang saya jadikan modal untuk maju. Karena saya nggak punya uang untuk merekrut tim sukses dan membayar para saksi di TPS,” katanya, serius.
”Untung, saya dapat sokongan penuh dari keluarga.
Selain itu, banyak juga relawan yang tidak dimintai bantuan membantu dengan ikhlas. Mereka mungkin orang-orang yang pernah saya bantu dulu,” kata ibu dari Abdul Fajri, 15, dan Fadli Nurahman, 5, itu.
Ketika ditanya soal biaya yang dihabiskan, dia mengaku tidak banyak merogoh koceknya. Semua fasilitas sosialisasi untuknya disokong keluarga besarnya. ’’Ketika tahu saya mencalonkan diri, masing-masing keluarga berbagi peran,” tuturnya.
Selama kampanye, Hairiah sudah memasang 40 baliho, mencetak dan membagikan 40 ribu kartu nama, 5 ribu kalender, 5 ribu stiker, dan 40 spanduk. ’’Semuanya disumbang keluarga. Untuk mengedarkan ke masyarakat, di antara keluarga saling berbagi peran,” kata anak kedua dari enam bersaudara itu.
Ketika ditanya soal kiatnya sehingga bisa terpilih, Hairiah mengaku punya strategi tersendiri. ”Pertama, saya petakan dulu kekuatan 25 calon anggota DPD. Selanjutnya, saya analisis mana saja wilayah yang menjadi kantong suara calon lain,” paparnya. Cara ini ternyata cukup ampuh untuk mengantar Hairiah ke kursi DPD.
Jika Hairiah baru kali ini maju ke kursi DPD, lain halnya dengan Maria Goreti. Keberhasilannya kali ini merupakan suksesnya yang kedua. ”Saya maju lagi karena banyak pekerjaan rumah yang belum selesai dan harus dilanjutkan,” ujar perempuan kelahiran Landak 29 Februari 1972 itu.
Dalam pemilu 9 April lalu, perempuan yang akrab disapa Yetie atau Titi tersebut memperoleh suara terbanyak, 157.915.
Pekerjaan rumah apa saja yang belum diselesaikan sehingga dia berkeinginan maju kembali sebagai DPD? ’’Secara kolektif yakni amandemen UUD 45. Yang jadi titik fokus adalah kewenangan dan eksistensi bagi DPD itu sendiri,” jelasnya.
Mengenai kemenangannya yang kedua dalam kancah pemilihan langsung anggota DPD, Maria mengatakan tidak mempunyai persiapan khusus.
Bahkan, waktu optimal yang dimanfaatkan untuk meyakinkan konstituen hanya sekitar enam bulan. ”Sebagai incumbent, waktu saya banyak dihabiskan di Jakarta untuk membahas program legislasi nasional (prolegnas). Bisa dibilang, 80 persen dihabiskan di Jakarta,” katanya.
Berbeda dengan calon DPD lainnya yang mempunyai waktu banyak untuk bersosialisasi, Maria memanfaatkan waktu yang sempit itu untuk benar-benar bertemu dengan konstituen dan berbicara dari hati ke hati, mendengarkan langsung keinginan dan harapan mereka atas keberadaan anggota DPD untuk memajukan Kalbar. (kum)
Sumber : Pontianak Post (Jawa Pos Group)
Sabtu, 02 Mei 2009 11:01
Kisah Para Calon Anggota DPD Kalbar Terpilih yang Semuanya Perempuan (2-Habis)
Tak Miliki Tim Sukses, Langsung Bertemu Rakyat
Selain Maria Goreti dan Hairiah, dua anggota DPD (dewan perwakilan daerah) hasil Pemilu Legislatif 2009 adalah Erma Suryani Ranik dan Sri Kadarwati Aswin. Erma dan Sri merupakan sosok populer bagi masyarakat Kalbar. Berikut sosok keduanya.
PRINGGO dan URAY BUDIANTO, Pontianak
—
NAMA Sri begitu akrab dengan warga Kalimantan Barat. Dalam pelaksanaan Pemilu 9 April 2009, istri mantan Gubernur Kalbar almarhum H Aspar Aswin itu mendapat dukungan 151.602 suara. Dengan perolehan suara yang cukup signifikan itu, dia terpilih kembali menjadi anggota DPD asal Kalbar periode 2009-2014.
Tidak seperti yang lain, Sri mengatakan tidak memiliki tim sukses khusus. Kalaupun mau disebut tim sukses, anggotanya hanya anak-anak, keluarga dekat, dan beberapa relawan. ”Di antara sekian banyak calon DPD yang tampil, mungkin hanya saya yang tidak memajang baliho dan sejenisnya di tempat-tempat umum. Ini saya lakukan karena saya memilih untuk menemui masyarakat secara langsung di lapangan,” paparnya.
Hasil kunjungan langsung itu ternyata sangat dasyat. Berkat dukungan moril yang selalu diberikan putra-putra tercintanya, Satya Devie, Doni Prasetia, dan Rico Adrisetia, Sri Kadarwati Aswin berhasil meraih jumlah suara yang sangat fantastis. ”Alhamdulillah, berkat doa restu semua pihak, akhirnya saya dipercaya untuk melanjutkan perjuangan menyejahterakan masyarakat Kalbar kembali,” ungkapnya penuh syukur.
Sri memang merasa memiliki keterikatan emosional yang kuat dengan Kalbar. Semasa duduk di DPD 2004-2009, Sri berjuang bersama koleganya asal Kalbar untuk konstituennya. Hasilnya, DPD berhasil mewujudkan terbentuknya Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Kubu Raya. Bukan hanya itu, pihaknya juga gigih memperjuangkan penyelesaian persoalan di kawasan perbatasan melalui pembentukan Badan Pengelola Perbatasan.
Sedangkan Erma dalam pemilu lalu mengumpulkan suara 118.340. Perolehan suaranya cukup signifikan. Maklum, sosok perempuan muda dan energik itu semula tak diperhitungkan duduk di kursi DPD.
Keseharian Erma tak berbeda dengan anak muda yang lain. Erma terlihat simpel dengan t-shirt dan celana jins. Dandanan ala aktivis. Dan, ternyata wanita berkulit sawo matang itu adalah aktivis lingkungan hidup yang cukup dikenal masyarakat akar rumput daerah tersebut. ”Sejak 1999, saya mengabdikan diri ke masyarakat desa. Saya bekerja untuk pemberdayaan masyarakat di berbagai organisasi internasional, ” katanya.
Raihan suara Erma di kursi DPD pada pemilu beberapa waktu lalu cukup signifikan. Perolehan suaranya mampu melewati mantan anggota DPR Ishak Saleh dan mantan anggota DPD sebelumnya, Aspar SE.
Kantong suara Erma berasal dari tanah kelahiranya, yakni Bumi Ale-Ale, Ketapang. Di sini Erma mendulang suara lebih dari 16.000. Di Melawi, raihan suara Erma bahkan lebih tinggi, yakni 17.000, Sintang 14.000, Bengkayang 14.000, Landak 11.000, Sanggau 13.000, Sekadau 10.000, Kota Pontianak 6.500, Kapuas Hulu 4.000, dan Kabupaten Pontianak 1.600.
Dengan hasil tersebut, kata Erma, dia mengucapkan syukur dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan masyarakat kepada dirinya. Semua itu juga hasil kerja kerasnya selama ini. ”Meskipun tak ada suara yang mencolok, saya lihat merata. Terima kasih atas kepercayaan ini,” ungkapnya.
Erma juga berbagi pengalaman sebelum terpilih menjadi anggota DPD. Bergabungnya Erma di berbagai organisasi internasional, menurutnya, juga dikarenakan profesinya di dunia jurnalistik. Karena tulisannya mengenai lingkungan dan sumber daya alam, Erma mulai dikenal dan diundang untuk menjadi pembicara di berbagai seminar, baik lokal maupun internasional. (*/agm)
Sumber : Jawa Pos
[Minggu, 03 Mei 2009 ]